free page hit counter

Perayaan Kematian

Perayaan Kematian
Cerpen Alda Muhsi

“Buuummm….”

Suara letupan terdengar di angkasa. Bocah-bocah berkeliaran mencari orang tua masing-masing. Aroma kematian sudah sangat lekat di ujung hidung. Tapi apakah bocah-bocah itu mampu memahami keadaan yang sebenarnya?

“Pak, aku takut sekali!” seru Aiman yang buru-buru menuju ketiak bapak.

Bapak memeluknya seketika.

“Tenang saja, itu hanyalah letupan kembang api yang menandai pembukaan sebuah perayaan.”

“Perayaan apa bapak? Apakah kita akan ke sana?”

“Tidak perlu, kita akan mendapat giliran. Tidak lama lagi.”

Aiman memeluk bapaknya dengan bayang-bayang wajah ibu di kepalanya. Ibunya meninggal karena dehidrasi seminggu lalu.

***

Orang-orang tidak lagi mengantar kematian dengan air mata. Orang-orang tidak lagi melepas kepergian dengan tangis. Orang-orang tidak pernah bersedih mendengar berita kematian, justru orang-orang akan bersukacita. Adakah kematian telah menjadi semacam ritual perayaan yang menyenangkan?

Kita tidak mungkin bertanya kepada orang yang telah mati. Kita hanya dapat bertanya kepada orang-orang terdekat yang ditinggalkan. Luangkanlah waktumu, aku akan mengisahkan tentang perayaan kematian.

Suatu kota yang putih berselimut pantulan awan dengan cepat dihinggapi gedung-gedung tinggi berhias cahaya lampu yang gemerlapan. Cahaya lampu kuning keemasan bagai kunang-kunang di tengah hutan bertengger di dedahan. Itulah mulanya. Waktu berjalan sangat cepat mengubah penampilan kota. Seperti seorang waria yang menjadi ayah dan ibu bagi anak-anaknya.

“Lihatlah betapa sempit kota ini. Kita mesti migrasi.”

“Migrasi bukan pilihan tepat. Lihatlah, lihat seluruh kota di negeri ini sama saja.”

“Angka kelahiran tak terjangkau walaupun angka kematian menakjubkan.”

“Kita adalah robot yang bergerak dalam penjara kota.”

“Birokrasi hanya menyusun rencana sendiri. Para birokrat tahu negeri ini semakin puruk. Maka mereka dengan cepat menyiasati agar mendapat tempat sembunyi. Lihatlah gedung-gedung dibangun untuk menjatahi diri sendiri dan sanak famili.”

“Bukan tak salah membangun kota kalau tujuannya untuk melindungi orang banyak. Yang jadi persoalan gedung-gedung dibangun malah jadi ancaman bagi kita. Gedung dibangun dengan menghilangkan tanah. Pohon-pohon ditebang, taman-taman bermain hilang, oksigen semakin tak terlihat dan sulit dirasa.”

Kota memang menjadi semakin sempit. Tanah-tanah subur hilang berganti dengan bangunan-bangunan. Orang-orang kekurangan stok makanan karena lahan-lahan pertanian, ladang, sawah, dan kebun sudah dilahap keserakahan. Begitu juga hutan penghasil bahan makanan alami. Kabarnya sebuah perusahaan asing, pemasok modal terbesar sengaja membakar beberapa lahan di kota ini. Tujuannya untuk mengubah tampilan menjadi wajah kota yang mencitrakan kesejahteraan, kemajuan dan kemodernan. Dampak dari itu semua adalah kini orang-orang hanya makan seadanya. Bagi golongan atas masih beruntung karena bisa membeli makanan cepat saji yang dihidangkan mesin-mesin. Walau tak jelas kesehatannya, tapi jelas nikmat rasanya. Sekarang orang-orang tak pernah bertanya perihal sehat, yang utama adalah pemuas hasrat. Mungkin itu juga yang mempengaruhi angka kematian dan batas-batas waktu kematian. Orang-orang sering menyebut mati tidak harus tua, mati tidak harus muda, mati tidak harus sakit, tapi yang pasti mati itu menyakitkan. Apa lagi hidup dalam lingkaran kematian.

Ruang gerak terbatas, dibatasi gedung-gedung. Tidak ada tempat tinggal bagi orang yang tak memiliki rumah. Pinggiran rel sudah tidak mungkin, sebab rel kereta telah berpindah melayang di udara. Apa lagi kolong jembatan, sudah menghilang. Sungai-sungai ditimbun untuk dibangun gedung.

Kenapa selalu gedung? Apakah semakin tinggi gedung menjulang akan membuat kita semakin mudah bernapas? Oh, aku keliru, pertanyaannya tidak mesti menggunakan kata kita, sebab aku tak mungkin sampai menginjak gedung-gedung tinggi itu. Tapi yang ingin kutegaskan pernapasan adalah persoalan sirkulasi kita dengan pohon-pohon, bukan? Bagaimana kita menghirup oksigen dan mengeluarkan karbondioksida, yang disambut oleh pohon-pohon dengan menghirup karbondioksida dan mengeluarkan oksigen. Bukankah kita saling ketergantungan? Aku mempelajari itu ketika sekolah dasar. Apakah kini sudah tidak berlaku? Makanya orang-orang dengan santai tanpa beban merobohkan pohon-pohon. Pertanyaan berikutnya mengapa beton-beton menjadi semakin tinggi, sementara untuk menggapainya masih memerlukan napas?

Para penentang akan bernasib sama, kalau tidak dibungkam dengan uang akan dibungkam dengan kematian. Karena pertanyaan-pertanyaan itu aku sempat dipanggil ke istana. Di sanalah baru aku mengetahui ternyata para penguasa tengah membuat sebuah bangunan yang nantinya akan dipenuhi dengan teknologi-teknologi penghasil oksigen buatan yang cukup untuk menyelamatkan diri dari lingkungan luar yang terpapar polusi. Tentu saja aku mengetahui hal itu setelah sebelumnya dihantam hingga pingsan. Kemudian ketika aku bertanya tentang siapa saja yang bisa tinggal di sana aku dihantam lagi, dan pingsan lagi. Ketika sadar aku telah berada di pusaran limbah menjijikkan.

***

Pekerjaan sulit didapat karena semua pekerjaan telah diselesaikan oleh robot buatan. Kerjanya pun begitu cepat, sepuluh kali lipat lebih cepat dari manusia. Di segala sektor ada robot, di segala bidang ada robot. Orang-orang menyimpan robot dalam tas punggungnya. Atau di dalam saku untuk ukuran yang lebih kecil, praktis, dan dapat dilipat.

Keinginan terbesar orang-orang kecil di republik ini hanyalah mati. Orang-orang tak sanggup menahan beban. Orang-orang ingin pulang kepada apa yang mereka percayai. Orang-orang ingin mati dengan cara terbaik. Bukan dengan kematian yang keji. Perlu kau ketahui kematian paling tragis bisa disaksikan di negeri ini. Mati bukan karena hukuman gantung, pancung, rajam, apa lagi tembak. Hukuman mati di sini dengan membiarkan orang-orang mengeluarkan organ-organ tubuhnya sendiri. Mula-mula ginjal, lama-lama jantung. Tidak perlu susah payah mengeluarkannya. Tubuh yang ringkih pelan-pelan akan menyusut dan menyisakan tulang belulang berbalut kulit. Kemudian saat itu terkelupaslah kulit-kulit akibat paparan matahari. Seperti es krim, organ-organ itu meleleh ke jalanan. Tidak ada yang dapat membantu, semua hanya melihat terpaku.

“Tidak ada penyiksaan setelah kematian. Kita mati saja.”

“Kita mati.”

“Tunggu, bukankah firman Tuhan akan ada hari pembalasan?”

“Mohon ampunlah kepada Tuhan. Bukannya Ia Maha Pemaaf dan Pengampun.”

“Waktu sudah habis, tidak ada maaf bagi orang yang memakan bangkai saudaranya sendiri.”

Orang-orang mengawang. Saling melukai tubuhnya sendiri. Saling meminum kencingnya sendiri. Tidak ada lagi perdebatan di sana. Semuanya sibuk mencari cara untuk melepaskan rekatan ruh. Segala kesakitan telah mereka terima. Segala kesedihan telah mereka rasa. Segala kepahitan apa lagi, tak akan bersisa. Mereka jalan beriringan bersama waktu menunggu panggilan.

Beruntung bagi yang gugur dalam perjalanan. Terputus sudah segala derita. Bagi mereka yang ditinggalkan, bangkai dimakan sampai kenyang. Darah dihidang agar dahaga hilang. Inilah perayaan sukacita. Kematian yang dinanti-nanti. Sebuah perayaan melepas kepergian yang sangat aneh disaksikan. Tapi memang begitulah nyatanya, musim akan membawa keanehan-keanehan. Kita tidak pernah tahu peradaban waktu, akan bertambah baik atau bertambah buruk. Kita tak pernah tahu akan dibawa ke mana.

Sekarang kau tahu kematian amatlah menyenangkan, melepas jiwa dari segala macam penderitaan, dan membiarkan tubuh berlabuh pada perut-perut kelaparan, menyediakan darah bagi tenggorokan yang kemarau. Tunggulah saatnya, kita akan berdansa bersama di atas lantai kematian.

***

“Buuummmm….”

Suara letupan terdengar di angkasa. Letupan kembang api menandai perayaan dimulai. Siapkah diri ini ketika mendapat giliran? Wajah-wajah bimbang gentayangan. Seketika orang-orang kembali percaya Tuhan dengan doa-doa yang diucapkan.

Aiman memeluk bapak dengan erat. Teriakan demi teriakan semakin terdengar jelas. Dadanya bergetar melebihi getaran waktu yang kebingungan. Tubuhnya menggigil kedinginan.

“Aiman, pergilah ke sana, bapak menyimpan sebuah jaket yang bisa kau pakai untuk menghangatkan.”

Langkah Aiman terbata sebab gandrung damai. Aiman belum juga paham arti perayaan yang dimaksud bapak. Sampai pada ketika ia kembali, ia menyaksikan tubuh bapak terhempas keras di atas tanah setelah dihantam bertubi-tubi oleh peluru yang menghunus jantungnya. Kembang api kembali meletup. Para penembak itu bersorak-sorai merayakan kemenangan, merayakan kematian orang-orang yang menurutnya pembangkang.

“Ha…ha…ha….”

“Siapa suruh jadi pembangkang….”

“Kalian harus tahu menghabisi satu nyawa dari kalian akan membuat kami mendapatkan sebuah kamar dengan fasilitas mewah di atas gedung sana.”

Aiman menyelinap ke dalam lemari tempatnya mengambil jaket tadi. Sungguh, betapa ia tidak sanggup menyaksikan orang-orang menghabisi bangkai bapaknya, meminum darahnya, menjilat-jilati jemarinya sampai habis dan yang bersisa hanyalah tulang-belulang yang segera dibawa anjing.

Tinggalkan Balasan