Menyoal Efektivitas Debat Capres-Cawapres (Refleksi Pascadebat Putaran Ketiga)

Menyoal Efektivitas Debat Capres-Cawapres (Refleksi Pascadebat Putaran Ketiga) Oleh Alda Muhsi

Debat ketiga pilpres telah dilaksanakan dengan sukses 17 Maret 2019 malam. Seperti biasa, kubu 01 mengklaim kemenangannya dan sebaliknya kubu 02 juga mengklaim kemenangannya.

Sebelum debat berlangsung muncul hipotesis awal debat ketiga ini, yang mempertandingkan cawapres, akan berlangsung tidak menarik. Mengapa demikian? Alasan besarnya berkaitan dengan sikap (attitude). Seperti yang diketahui Cawapres 02, Sandiaga Salahuddin Uno, selain keterpautan usia yang mengharuskan beliau menaruh hormat kepada Ma’ruf Amin, kecenderungan sikap beliau yang terbiasa merendah dan menghargai orang lain menjadi dasarnya. Belum lagi beberapa waktu sebelum debat dilaksanakan muncul imbauan dari Prabowo Subianto yang meminta agar Sandi tidak menyerang Ma’ruf Amin. 

Tentu saja hipotesis itu mendekati kebenaran sempurna. Tidak ada ketegangan yang terjadi. Debat berjalan seperti tanya jawab biasa. Benarkah ini yang diharapkan khalayak? Maka timbul lagi pertanyaan perihal efektivitas debat capres-cawapres ini.

Kalau memang target adanya debat adalah untuk membuka pikiran dan wawasan masyarakat terhadap calon pemimpin, menyirami dahaga masyarakat terhadap kebutuhan visi, misi calon pemimpin, sudahkah tercapai? Apakah tepat sasaran? Apakah khalayak membutuhkan dan menikmati sajiannya? Sudahkah dilakukan penelitian atau sekadar survei mengenai hal ini? Khalayak dari kalangan mana yang menikmatinya? Akademisi, orang tua, buruh, mahasiswa, ibu rumah tangga (emak-emak), kaum milenial, atau hanya untuk kalangan sendiri (para anggota parpol)?

Faktanya sebagian masyarakat tidak terlalu menaruh simpati terhadap debat. Bisa dicari buktinya dengan melakukan survei lapangan misalnya melalui pengisian kuesioner. Penulis menyaksikan di lingkungan seputar Universitas Sumatra Utara saat debat berlangsung banyak mahasiswa yang memadati warung internet atau rental komputer sedang sibuk mencetak tugas-tugas kuliah untuk esok hari. Di warung-warung lainnya bapak-bapak main kartu dan minum kopi. Sementara itu ibu-ibu (emak-emak) melayani suami dan anaknya untuk makan malam dan mengerjakan PR. Bukankah hal ini sedikit banyak bisa dijadikan landasan?

Memilih adalah suatu kewajiban, dan kewajiban adalah pertanggungjawaban masing-masing pribadi. Setiap orang tentu sudah punya pilihan politiknya. Tentu saja pilihan yang tidak akan goyah jika disalahkan atau dilemahkan. Oleh karena itu bagaimanapun caranya mempengaruhi pilihan politik orang lain adalah perbuatan sia-sia. Apalagi sampai bertengkar penuh tegang urat saraf. Singkatnya, debat hanya akan memperkeruh situasi politik, dan sebenarnya tanpa debat si A akan tetap mencoblos kandidat yang telah dipilihnya dalam hati jauh sebelum debat bergulir.

Lantas di mana efektivitas debat Capres-Cawapres kalau yang ada malah pertengkaran yang berkepanjangan antara dua kubu? Marilah ciptakan pemilu yang aman dan kondusif dengan memulai dari sekarang.


Default image
Admin
Articles: 206

Tinggalkan Balasan