DUTA DAMAI SUMUT – Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Sumatera Utara menggandeng Duta Damai Sumut menggelar kegiatan Bincang Daring dengan topik “Bijak Bermedia Sosial di Masa Pandemi” pada Jumat (22/5).

Bincang Daring yang menggunakan aplikasi Google Meet ini berlangsung selama satu jam tiga puluh menit, mulai pukul 16.00 WIB sampai dengan 17.30 WIB. Adapun yang menjadi pembicara adalah Fajar AM Dalimunthe S.I.Kom. (Koordinator Duta Damai Sumut); Dr. Erwan Efendi, M.A. (Kabid Media Massa, Hukum, dan Humas FKPT Sumut & Jurnalis Senior) dan keynote speaker, yaitu Drs. Ishaq Ibrahim, M.A. (Ketua FKPT Sumut). Sejumlah peserta yang turut bergabung terdiri dari mahasiswa dan umum.

Pelaksanaan kegiatan ini dilatarbelakangi oleh maraknya peredaran berita-berita hoaks dan perpecahan di media sosial selama masa pandemi. Oleh karena itu, kegiatan ini dilaksanakan sebagai salah satu upaya sosialisasi dan edukasi masyarakat agar dapat meredam kekacauan di media sosial.

Drs. Ishaq Ibrahim, M.A. menyampaikan untuk menghindari termakan informasi hoaks masyarakat mesti tabayun terlebih dahulu ketika mendapat informasi di media sosial.

“Masyarakat pengguna media sosial mesti melakukan tabayun dengan cara cek dan ricek, serta saring sebelum sharing,” katanya.

Sementara Dr. Erwan Effendi, M.A. menjelaskan informasi-informasi yang beredar luas di media sosial disebabkan karena media mainstream/nasional tidak menjalankan fungsinya sebagai pemberi informasi dan edukasi secara maksimal karena adanya pembatasan yang dilakukan pemerintah/negara. Oleh karena itu Beliau berharap pemerintah dapat kembali membebaskan media dalam memberitakan informasi yang benar sesuai fakta dan kaidah Dewan Pers.

“Kenapa akhir-akhir ini media sosial jadi ramai? Karena tertutupnya media mainstream/nasional dalam menyampaikan informasi. Media tidak berbuat maksimal sebagaimana fungsinya, pertama sebagai pemberi informasi, kedua sebagai edukasi/mendidik. Ada tiga kuncinya untuk bijak bermedia sosial, yang pertama pemberi informasi harus bijak, kedua penerima informasi harus mampu menyaring, ketiga kebijakan negara,” paparnya.

Dari sisi milenial, Fajar Dalimunthe, S.I.Kom. menyampaikan para pemuda harus menggunakan kreativitasnya untuk memerangi konten-konten hoaks yang berseliweran di media sosial. Selain itu, anak muda juga harus memiliki etika dalam menggunakan media sosial.

“Peran pemuda saat ini yang bisa dilakukan adalah memanfaatkan media sosial untuk mengimbangi informasi-informasi hoaks dan perpecahan dengan informasi-informasi benar yang dikemas kreatif. Sehingga informasi hoaks dan perpecahan itu tenggelam dengan konten kreatif yang kita buat. Dan satu lagi, untuk menghindari keributan dan perpecahan di media sosial, anak muda dan para pengguna harus memiliki etika dalam menggunakan media sosial,” pungkasnya.