AKAR KEPAHITAN

Aku selalu menyiram pohon kesabaran dan selalu menikmati setiap perbuatan yang telah kau lakukan terhadapku. Namun apa itu membuatmu senang?

Aku selalu menyiram pohon kesabaran dan selalu menikmati setiap perbuatan yang telah kau lakukan terhadapku. Namun apa itu membuatmu senang? Aku tidak keberatan jika seperti ini setiap hari. Kubur semua emosimu di kulitku dan cinta hanyalah kamuflase.

Jangan berubah, aku tidak akan pernah lelah
Aku tetap punya sabar untuk setiap hari
Jangan berubah, kau pikir aku akan lelah
Aku tidak keberatan kau seperti ini

Namun kau tetap tidak pernah berubah. Terus memelihara pohon amarahmu dan tetap menyiram akar kepahitan setiap harinya. Tidak pernah peduli atas keadaan seperti ini. Kau sengaja menutup mata hati untuk merasa hambar.

Jangan cemas, aku tidak akan memberi keputusan
Aku di sini untuk kepahitan
Jangan tersesat, aku tidak merasakan kesedihan
Aku di sini untuk kecemasan

Kau memberi pesan lewat tanda merah kebiruan. Menumbuhkan pohon putus asa dan apakah aku harus memelihara pohon ini? Biarkan hujan air mata membasahi pohon ini sedangkan kau membuang diri ke dinding.

Sedang hatimu belum berbinar
Kepedulian belum dimulai
Kebersamaan akan selesai

Ini sangat melelahkan. Dapatkah aku mati dalam satu hari saja? Visi yang telah mati dalam namamu dan jemari yang telah mati di nadiku. Tanda aku akan pergi meninggalkanmu untuk mencabut akar kepahitan.

Aku menutup mataku
Mendengarkan angin
Aku menutup jiwaku
Merasakan dingin

Teks dan ilustrasi: Ozan Lubis

Default image
Admin
Articles: 205

Tinggalkan Balasan