free page hit counter

Media Sosial: Teman atau Ancaman? Generasi Muda Wajib Baca Ini!

Zaman sekarang teknologi dan informasi semakin berkembang. Arus
informasi yang tak terbatas dan cepat bisa membawa budaya asing masuk dan
memberi pengaruh kepada masyarakat Indonesia. Akibatnya, mudah terpengaruh
oleh isu-isu melalui laman atau aplikasi yang memungkinkan pengguna dapat
membuat dan berbagi isi atau terlibat dalam jaringan sosial. Mencapai angka 202
juta pengguna internet di Indonesia, 80 persen yang aktif menggunakan medsos.
Generasi milenial dan Z yang paling mendominasi.


Dikehidupan sekarang, media sosial tak terlepas dari diri kita. “Karena
media sosial ini adalah tempat yang rentan bagi generasi muda. Kelompok teroris
ataupun kelompok yang suka mengadu domba untuk membuat kegaduhan di negeri
ini melakukan gerakannya melalui media sosial. Demikian pula kelompok kejahatan
terorisme dalam merekrut anggotanya juga melalui media sosial” ungkap Kasubdit
Kontra Propaganda BNPT RI, Kolonel Cpl. Hendro Wicaksono, SH, M. Krim. Jadi,
jangan mudah terprovokasi apalagi dengan entengnya menekan tombol share.
Dukung kebenaran dan melawan bentuk kesalahan. Mari kita telaah lebih jauh
untuk memahami apakah media sosial adalah teman atau ancaman bagi generasi
muda.

Eksistensi Media Sosial


Peran anak muda yang membawa perubahan mewujudkan konten yang
membangun. Jangan mudah terpancing dengan berita hoaks yang terkandung
seperti di buku, selebaran, kajian, dan permainan gim. Tetap waspada terhadap
penyebaran paham kebencian dan kekerasan di dunia maya khususnya pada
platform media sosial. Hal tersebut menjadi tolok ukur dalam menggunakan
medsos.Membangun personal branding dapat dilakukan dengan siniar yang
memotivasi seperti menjaga persatuan, kebinekaan, toleransi dan cinta tanah air.


Pentingnya Kesadaran Bersama

Merebaknya penyebaran berita palsu merupakan fenomena yang semakin
mengkhawatirkan di era digital saat ini. Bukan hanya itu, pesan-pesan yang
bermuatan radikalisme juga menjadi perhatian kita bersama. Pendidikan salah satu
kunci dalam meningkatkan kesadaran tentang berita palsu maupun ujaran
kebencian. Melalui pendidikan, seluruh masyarakat bahkan generasi muda
sekalipun dapat belajar tentang cara mengenali dan mengatasi berita palsu. Hal ini
bagian dari memahami teknik-teknik penyebaran hoaks dan cara mengevaluasi
sumber informasi.


Kesadaran akan berita palsu, mendorong setiap individu untuk meningkatkan
literasi digital. Dengan demikian, ini merupakan bentuk cinta damai terhadap
bangsa dan menolak kekerasan. Masyarakat yang memiliki kesadaran tinggi
terhadap berita palsu akan lebih mampu menahan dampak negatif yang
ditimbulkan oleh hoaks. Ini penting untuk menjaga keharmonisan sosial dan
mencegah konflik yang akan timbul akibat berita yang tidak benar.


Kesadaran akan pentingnya informasi yang benar membantu masyarakat
untuk lebih kritis dalam menerima dan menyebarkan berita. Dengan demikian,
masyarakat dapat membedakan antara berita yang sah dan berita yang
menyesatkan.

Strategi dan Penanganan Tambahan
Pertama, lembaga pendidikan juga menyediakan kurikulum yang mencakup
literasi digital dan etika penggunaan media sosial, serta mengadakan seminar dan
workshop untuk siswa dan mahasiswa tentang cara bijak menggunakan media
sosial.


Kedua, perusahaan teknologi seperti facebook, twitter, instagram dapat
menyediakan fitur-fitur yang membantu pengguna melaporkan konten negatif,
serta melakukan moderasi konten agar mengurangi penyebaran informasi palsu dan
ujaran kebencian. Selanjutnya, pengembang aplikasi juga tak kalah penting
menciptakan aplikasi dan alat bantu yang mendukung penggunaan media sosial
secara aman dan bertanggung jawab.


Ketiga, disisi lain para influencer dan tokoh publik menggunakan pengaruh
mereka untuk menyebarkan pesan-pesan positif tentang penggunaan media sosial
yang bijak, serta menjadi contoh dalam berperilaku di media sosial.
Media sosial dapat dikatakan pedang bermata dua. Artinya, dapat membawa
dampak negatif maupun positif.

Generasi muda perlu belajar untuk
menyeimbangkan antara memanfaatkan potensi media sosial dan menghindari
ancamannya. Dengan kesadaran dan kebijaksanaan, media sosial bisa menjadi alat
yang powerful untuk pengembangan diri dan menolak kekerasan.

Penulis: Ira Aprillah Siringo-Ringo, DD SUMUT, 2024.

Default image
Duta Damai Sumut
Articles: 44

Tinggalkan Balasan